|
VIVAnews - Kandidat konservatif dalam pemilihan presiden Iran, Mohsen Rezaei, Rabu 24 Juni 2009, mengatakan menarik gugatan atas penyimpangan dalam pemungutan suara dengan alasan demi negara. Pernyataan mantan komandan garda elit revolusioner ini semakin mendekatkan pemerintah Iran kepada deklarasi final kemenangan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.
"Situasi keamanan, sosial, dan politik saat ini memasuki masa sensitif dan menentukan, yang lebih penting daripada pemilihan itu sendiri," kata Mohsen Rezaei dalam surat kepada Dewan Pertimbangan Iran, seperti dikutip dari laman harian Press TV. Rezaei juga mengatakan, dia menarik tuntutannya karena minimnya waktu. Ahmadinejad akan diambil sumpah antara 26 Juli hingga 19 Agustus.
Surat penarikan tuntutan itu dikirimkan setelah pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, menerima permintaan dari Dewan Pertimbangan untuk memperpanjang batas akhir penyelidikan atas komplain yang ditujukan kepada Dewan Pertimbangan sebagai pengawas pemilihan umum.
Rezaei menduduki peringkat ketiga dalam pemilihan presiden 12 Juni lalu dengan memenangkan 678.240 suara (1,73 persen). Kandidat yang kalah, Mir-Hossein Mousavi, Mehdi Karroubi, dan Mohsen Rezaei, menuduh terjadi penyimpangan ketika Ahmadinejad dinyatakan sebagai pemenang.
Mousavi, Karroubi, dan Rezaei, menurut Dewan Pertimbangan, melaporkan lebih dari 600 penyimpangan dalam proses pemilihan umum. Abbas-Ali Kadkhodaei, juru bicara dewan, mengatakan bahwa jumlah kartu suara yang masuk di 50 kota melampaui jumlah pemberi suara yang sah.
Namun, dia mengatakan bahwa tidak ada peraturan yang mencegah seseorang untuk memberikan suara di kota lain yang bukan kota asalnya. Maka, Dewan Pertimbangan menolak menganulir pemilihan karena menganggap bahwa tidak ada penyimbangan besar dalam proses pemilihan.
• VIVAnews