Proyeksi Perdagangan Saham Wall Street
Investor Optimistis Reli Kembali Berlanjut
Investor menanti sejumlah data penting, diantaranya tingkat penjualan ritel bulan Mei
Senin, 8 Juni 2009, 07:16 WIB
Renne R.A Kawilarang
Dua pialang Wall Street mengamati grafik indeks harga saham (AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Bagi para pelaku pasar saham di Wall Street, tiga bulan bisa terasa sangat lama. Di bursa saham, dimana berita mengenai perusahaan dan situasi ekonomi bisa mempengaruhi keputusan jual-beli hanya dalam hitungan detik, reli (kenaikan panjang) harga - bagi para pemain yang berpengalaman - dalam tiga bulan terakhir sudah tergolong lama.

Para investor telah mempertaruhkan dana mereka karena yakin bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) sudah tidak lagi meluncur ke bawah. Optimisme itulah yang mengangkat indeks harga saham Standard & Poor's 500 - yang menjadi indikator bagi para investor pengelola dana bersama - sebesar 39 persen setelah mencetak rekor terendah dalam 12 tahun terakhir pada 9 Maret lalu. Biasanya, kenaikan sebesar itu baru bisa terjadi dalam kurun waktu empat tahun.

Kalangan pengamat kini mempertanyakan apakah antusiasme para investor itu kelewat cepat sehingga memupus kekhawatiran mereka sebelumnya. Maka, rangkaian data ekonomi terbaru yang akan muncul pada pekan ini bisa menegaskan apakah reli akan terus berlangsung.

"Apakah kita sudah sangat optimistis atas situasi pasar? Nampaknya demikian dan menurut saya para investor akan menjadi bijak untuk melakukan sejumlah aksi ambil untung," kata Walter Gerasimowicz, pengamat dari Meditron Asset Management.

Sejak awal tahun ini, indeks saham industri Dow Jones juga mengalami kenaikan, yaitu 2.220 poin. Namun indeks Dow saat ini masih lebih rendah 5.400 poin dari rekor tertinggi yang dicetak pada Oktober 2007, yaitu 14.164,53.

Namun, kalangan pengamat masih mewanti-wanti para investor yang kini sudah dianggap gegabah dalam mematok ekspektasi terlalu tinggi atas cepatnya pemulihan ekonomi AS dari resesi, yang dimulai sejak Desember 2007.

"Saat prediksi menjadi tidak semuram sebelumnya saya justru melihat situasi itu bisa menimbulkan potensi kekecewaan," kata Jeff Knight, pengamat dari Putnam Investments. "Kita masih belum punya cukup bukti untuk menilai bahwa situasi sudah membaik," lanjut Knight.

Penilaian Knight atas situasi ekonomi AS ada benarnya. Tingkat penjualan rumah masih lesu dan tingkat pengangguran masih berada di zona tertinggi dalam 26 tahun terakhir.

Pemerintah AS Jumat pekan lalu mengungkapkan bahwa Mei lalu terdapat 345.000 korban pemutusan hubungan kerja (PHK). Jumlah itu merupakan angka terkecil sejak September 2008, namun tingkat pengangguran masih sebesar 9,4 persen akibat berbagai berita PHK massal dalam empat bulan berturut-turut.

Pada pekan ini, investor menanti sejumlah data penting. Diantaranya, laporan dari Departemen Perdagangan atas tingkat penjualan ritel bulan Mei. Kalangan peritel pekan lalu menyajikan laporan yang beragam, namun para pengamat terkejut bahwa kini makin banyak konsumen yang mengurangi belanja mereka.

Maka, Gerasimowics memperingatakan bahwa pemulihan ekonomi di AS sulit terlaksana bila tingkat belanja konsumen, yang merupakan 2/3 dari seluruh kegiatan ekonomi AS masih belum normal.

Investor pun pekan ini menantikan Beige Book, yaitu laporan situasi ekonomi per kawasan yang disusun oleh Bank Sentral AS. Selain itu, Departemen Perdagangan juga merilis tingkat pasokan perdagangan grosir untuk bulan April. Begitu pula dengan laporan neraca perdagangan yang akan muncul Rabu mendatang.

Pada Jumat mendatang, Departemen Perdagangan juga akan mengungkapkan laporan inventarisasi bisnis dan pada hari yang sama Reuters/University of Michigan akan mengeluarkan laporan atas sentimen konsumen di bulan Juni. (AP)

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.