VIVAnews - Hasil perdagangan saham di sejumlah bursa utama di Asia hari ini cenderung stagnan. Padahal muncul kabar bahwa ekspor di China naik, namun para investor Asia tampak bersikap hati-hati menanggapi laporan itu.
Di akhir transaksi Rabu sore waktu setempat, indeks Nikkei 225 di Jepang tetap di level 10.568,03, begitu pula dengan indeks Hang Seng di Hong Kong tidak bergerak dari 21.215,50. Indeks di bursa Korea Selatan pun bergerak datar. Di bursa India, indeks saham hanya menguat 0,6 persen, sedangkan di Australia, indeks pun cenderung datar.
Bahkan, indeks di bursa China sedikit turun 0,5 persen menjadi 3.052,54. Padahal muncul laporan positif di China bahwa tingkat ekspor selama Februari lalu naik hampir 46 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya.
Persentase itu lebih dari yang diperkirakan sebelumnya. Seharusnya ini bisa menjadi kabar yang baik, mengingat ekonomi China kembali bergairah. Namun para investor tampak berhati-hati menanggapi laporan itu.
Pasalnya, dengan menguatnya tingkat ekspor lebih dari perkiraan, pemerintah China punya alasan untuk melakukan pengetatan regulasi demi mencegah agar pertumbuhan ekonomi di negara itu tidak terlalu pesat (overheating).
Bagi para investor, pengetatan kebijakan seperti mengekang aliran kredit perbankan, justru bisa mengurangi tingkat permintaan impor di China dan ini menjadi sinyalemen negatif bagi para eksportir manca negara saat negara mereka masih dalam tahap pemulihan ekonomi dari resesi.
"[Data] itu mempertebal keyakinan pemerintah untuk melakukan langkah-langkah pengetatan berikut," kata Andy Xie, ekonom independen di Shanghai, menanggapi laporan pemerintah China hari ini.
Sementara itu, dalam perdagangan valuta, kurs dolar atas yen menguat, dari 89,94 yen menjadi 90,01 yen per dolar. Sedangkan kurs dolar atas euro tetap US$1,3598 per euro. (Associated Press)