|
VIVAnews - Negara-negara di dunia pada dasarnya tidak perlu senjata nuklir. Masalahnya, bagi beberapa negara, memiliki senjata nuklir hanya untuk alasan prestisius.
Demikian menurut pengamat hubungan internasional, Dewi Fortuna Anwar. "Dengan memiliki senjata nuklir, mereka merasa berada di posisi yang lebih tinggi dibanding negara yang tidak memiliki nuklir," kata Deputi Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu.
Dewi mengungkapkan pandangannya dalam diskusi panel mengenai laporan Komite Internasional untuk Non-proliferasi Nuklir dan Perlucutan Senjata (ICNND) di Jakarta, Rabu 10 Februari 2010.
Hal senada diungkapkan perwakilan Indonesia di ICNND, Wiryono Sastrohandoyo. "Memiliki senjata nuklir itu menjadi psychological barrier. Orang yang punya jadi bisa menakut-nakuti," kata Wiryono.
Setelah Perang Dingin, senjata nuklir tidak digunakan. "Bahkan waktu Perang Dingin, senjata nuklir tidak dipakai karena seluruh dunia bisa hancur," kata Wiryono.
Dewi selanjutnya menilai bahwa perjuangan menumpas hirarki itu harus digalakkan. Menurutnya, senjata nuklir adalah senjata pemusnah massal yang tidak beradab.
"Tak hanya memusnahkan kehidupan manusia saja. Dalam jangka panjang, efek radiasi nuklir ini merusak ekosistem kita. Tak seharusnya senjata seperti ini berada di muka bumi," tegas Dewi.
Sementara itu, menurut Wiryono, kesediaan Amerika Serikat di bawah Presiden Barack Obama untuk bekerja sama dengam dunia dalam mengurangi keberadaan senjata harus dijadikan momentum. "Ini berbeda dengan kebijakan George W. Bush di mana AS membuat negara-negara kembali pada posisi masing-masing untuk memakai senjata nuklir," kata Wiryono.
"Kebijakan Obama, 'Let's go to zero nuclear', memunculkan harapan untuk mengurangi keberadaan senjata nuklir," lanjut mantan Duta Besar Indonesia untuk Austria dan Badan Energi Atom Internasional itu.
Dia menambahkan, upaya perlucutan senjata nuklir harus dilakukan setahap demi setahap. Saat ini diperkirakan ada 23 ribu senjata nuklir di penjuru dunia. Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun 1975 ketika ada 70 ribu senjata nuklir, sebagian besar milik AS dan Uni Soviet.