|
|
kilang minyak (www.dpi.vic.gov.au) |
|
VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa New York turun mendekati batas bawah US$73/barel. Penurunan itu sebagian berkat laporan sejumlah survei yang memproyeksikan kembali menumpuknya stok minyak di Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan transaksi elektronik untuk perdagangan Asia, Rabu siang waktu Singapura, harga minyak mentah di bursa New York turun 53 sen menjadi US$73,22/barel. Padahal, dalam transaksi di New York dini hari tadi, harga minyak naik cukup tajam, yaitu sebesar US$1,86, menjadi US$73,75/barel.
Para investor tampak terpengaruh oleh laporan sejumlah survei mengenai proyeksi stok mingguan minyak mentah di AS, konsumen terbesar di dunia. Menurut survei dari American Petroleum Institute, stok akan bertambah 7,2 juta barel. Selain itu para pengamat yang disurvei Platts memperkirakan tambahan pasokan 2 juta barel.
Sementara itu, Departemen Energi AS menunda pengumuman mingguan tingkat stok minyak, yang biasanya Rabu menjadi Jumat waktu Pantai Timur Amerika. Pasalnya, aktivitas di Washington DC dan sekitarnya terganggu oleh badai salju.
Naiknya tingkat stok di AS berdasarkan proyeksi dua survei itu menandakan bahwa tingkat permintaan minyak mentah masih lemah. Ini menandakan bahwa situasi ekonomi global masih belum berlangsung normal.
"Kebijakan pengetatan aliran kredit di China dan rendana pengetatan perbankan di AS merupakan penyebab utama kekhawatiran para investor. Kini mereka juga cemas atas masalah keuangan yang terjadi di sejumlah negara di Eropa Selatan," demikian laporan Barclays Capital. Laporan itu merujuk pada tiga negara yang mengalami krisis utang, yaitu Yunani, Spanyol, dan Portugal.
"Dalam jangka pendek, harga minyak mungkin terjebak di antara sentimen-sentimmen makro negatif sehingga menimbulkan kerentanan," demikian laporan Barclays Capital.
Sementara itu, di bursa London, harga minyak Brent turun 60 sen menjadi US$71,53/barel. (AP)
• VIVAnews