|
|
kilang minyak (www.dpi.vic.gov.au) |
|
VIVAnews - Setelah sedikit menguat, harga minyak mentah di bursa New York kembali menjauh dari level US$72/barel. Ini menandakan para investor masih belum yakin atas pulihnya ekonomi global dari krisis keuangan dan harapan naiknya tingkat permintaan minyak tampak masih jauh.
Berdasarkan transaksi elektronik untuk perdagangan Asia, Selasa siang waktu Singapura, harga minyak di bursa New York untuk kontrak Maret turun 16 sen menjadi US$71,73/barel. Dini hari tadi harga minyak sempat naik 70 sen menjadi US$71,89/barel.
Para investor masih waspada akan dampak krisis utang di sejumlah negara Eropa dan masih tingginya tingkat pengangguran di Amerika Serikat (AS). Belum lagi dengan kebijakan uang ketat di China untuk mengendalikan laju pertumbuhan ekonomi di negara itu, namun berpotensi menghambat pemulihan ekonomi global.
"Ketegangan geopolitik, krisis keuangan yang sedang berlanjut dari Yunani, Portugal, dan Spanyol serta likuidasi tindakan-tindakan spekulatif jangka panjang akan terus memberi pengaruh bagi harga minyak," demikian menurut laporan ANZ Banking Group.
Tingkat permintaan minyak mentah di AS masih saja rendah kendati sebagian Negeri Paman Sam sedang dilanda musim dingin yang ekstrem. Berdasarkan proyeksi para ekonom yang disurvei Platts dari McGraw-Hill Cos., tingkat persediaan mingguan minyak mentah di AS akan bertambah 2 juta barel.
Laporan resmi baru akan diumumkan Departemen Energi AS pada Rabu waktu setempat. Sementara itu di bursa London, harga minyak Brent turun 18 sen menjadi US$70/barel. (AP)
• VIVAnews