Kemampuan Iran itu membuat negara-negara Barat cemas dan melontarkan reaksi keras
|
|
Papan penunjuk reaktor nuklir di Bushehr, Iran (AP Photo/Hasan Sarbakhshian) |
|
VIVAnews - Iran kian maju dalam membuat hulu ledak nuklir. Bahkan, Iran telah memberi tahu Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengenai rencana untuk mengolah uranium ke tahap yang lebih tinggi, Senin 8 Februari 2010.
Kemampuan Iran itu kian menggelisahkan negara-negara Barat. Mereka segera mempertanyakan alasan di balik tindakan tersebut sembari mengingatkan bahwa Iran bisa mendapat lebih banyak sanksi dari Dewan Keamanan (DK) PBB.
Inggris menganggap alasan negara Republik Islam untuk pengayaan lebih lanjut tidak masuk akal karena Iran secara teknis tidak memiliki teknologi maju untuk mengubah material menjadi bahan bakar yang diperlukan untuk reaktor nuklir.
Sedangkan Prancis dan Amerika Serikat mengatakan, tindakan Iran menyebabkan tidak ada cara lain yang bisa ditempuh DK-PBB selain memberlakukan sanksi keempat pada Iran. Iran dianggap telah melanggar lima resolusi DK-PBB. Sebelumnya Iran telah mendapat tiga sanksi dari DK-PBB.
Bahkan seorang anggota senior parlemen Rusia, negara yang biasanya menentang ambisi negara-negara Barat terkait sanksi-sanksi DK PBB, mengatakan saatnya sudah tiba untuk mengenakan sanksi tambahan bagi Iran.
"Komunitas internasional harus tanggap terhadap langkah Iran dengan mengambil tindakan, termasuk mengenakan sanksi ekonomi yang lebih berat pada rezim Iran," kata Konstantin Kosachev, ketua komite urusan internasional DPR Rusia, Duma, kepada kantor berita Interfax.
Iran selalu bersikeras bahwa aktivitas nuklir yang mereka lakukan adalah untuk kepentingan damai. Seorang utusan Iran mengatakan tindakan lebih lanjut untuk pengayaan uranium hanya untuk menyediakan bahan bakar bagi reaktor penelitian pemerintah Iran.
Namun negara-negara lain khawatir program pengayaan uranium Iran dilakukan untuk menutupi program pembuatan senjata.
Minggu lalu, Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, telah mengumumkan akan mengayakan secara signifikan persediaan uranium Iran menjadi 20 persen. Namun, pemberitahuan resmi Senin kemarin sangat penting antara lain karena selama beberapa bulan terakhir tidak memberi pernyataan jelas terkait isu pengayaan nuklir ini. (AP)
• VIVAnews