|
VIVAnews - Pemerintah Indonesia prihatin dengan tragedi pembunuhan massal di Provinsi Maguindanao, Pulau Mindanao, Filipina, awal pekan ini. Indonesia berharap agar pelaku pembantaian terhadap 46 orang, termasuk sejumlah perempuan dan wartawan, segera dibawa ke pengadilan.
Demikian menurut Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa, di tengah lawatan kerja di Filipina. "Sebagai manusia, meski tidak bisa membantu, tapi kami merasakan kengerian atas tragedi tersebut," kata Natalegawa yang tengah berada di Manila, Rabu 25 November 2009, seperti dikutip dari stasiun televisi GMA News.
"Kami mengecam pembunuhan tidak berperikemanusiaan dan kekerasan tidak berperikemanusiaan dengan ungkapan paling keras yang paling mungkin," lanjut Natalegawa usai melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Filipina, Gloria Macapagal Arroyo.
Natalegawa berada di Filipina dalam rangka kunjungan ke sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara.
Keprihatinan atas pembunuhan massal akibat persaingan politik tersebut juga datang dari Jepang. Sekretaris tiga Kedutaan Jepang di Manila, Shigehiro Matsuda, mengatakan, Japan International Cooperation Agency (JICA) dan sejumlah organisasi nirlaba di Jepang sedang menjalankan sejumlah proyek di Mindanao. "Jepang ikut berbela sungkawa atas peristiwa itu, tetapi kami harap peristiwa itu tidak berdampak buruk bagi proyek kami di Mindanao," kata Matsuda.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon, dalam pernyataan tertulisnya mengatakan sangat berduka atas pembunuhan brutal yang disebutnya sangat bengis itu. Ban juga menyampaikan duka cita mendalam bagi keluarga korban dan berharap tidak akan ada usaha untuk menghalangi penegakan keadilan.
Kecaman serupa juga datang dari Kerajaan Inggris melalui duta besar Inggris untuk Filipina, Stephen Lillie.
Pembantaian massal terjadi saat sekitar 50 orang bersenjata dipimpin oleh walikota kotapraja Datu Unsay Provinsi Maguindanao, Andal Ampatuan Jr. mencegat iring-iringan pendukung, termasuk keluarga dari kandidat oposisi jelang pemilihan gubernur setempat.
Lebih dari 20 wartawan yang bertugas meliput ikut dalam rombongan. Mereka pun ikut tewas.