VIVAnews - Mantan Perdana Menteri Thailand, Samak Sundaravej, yang tahun lalu terjungkal dari kekuasaan setelah ketahuan bekerja sebagai pengasuh acara televisi, meninggal dunia. Samak wafat pada hari Selasa, 24 November 2009, dalam usia 74 tahun.
Samak meninggal di Rumah Sakit Internasional Bumrungrad, Bangkok, setelah tak kuasa melawan kanker hati yang menyerangnya selama bertahun-tahun. Samak sempat mendapat perawatan selama satu tahun terakhir di Amerika Serikat (AS).
Dikenal sebagai seorang yang suka berterus terang mengenai kesalahan yang dilakukan, karir politik Samak berlangsung selama empat dekade. Banyak para pendukung mengenangnya sebagai sebagai pemandu acara kuliner di salah satu stasiun televisi bertajuk "Mencicipi dan Memprotes." Itu merupakan sebuah paduan antara acara memasak menu masakan tradisional Thailand dibarengi ocehannya mengenai hewan peliharaan.
Pekerjaannya di stasiun televisi itulah yang mengakhiri karir politik pada Desember 2007 saat Samak menjadi Perdana Menteri Thailand yang ke-25. Samak hanya menjabat sebagai Perdana Menteri selama sembilan bulan.
Samak terpilih sebagai Perdana Menteri dalam salah satu krisis politik dalam sejarah Thailand menyusul digulingkannya Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pada September 2006. Samak muncul dalam pusat kekuasaan dan mendeklarasikan dirinya sebagai wakil Thaksin, yang hidup dalam pelarian. Samak menjadi pusat perhatian gerakan pemrotes Anti Thaksin yang menuntut pengunduran dirinya.
10.000 pendemo membanjiri jalan dan membawa poster yang menuntut Perdana Menteri mundur pada Agustus 2008. Namun bukan demo yang menyingkirkannya dari kekuasaan. Pengadilan Thailand September 2008 menunjukkan kemunculan Samak di acara memasak di salah satu stasiun televisi dan fakta bahwa dia menerima uang. Sikap Samak itu dianggap bertentangan dengan konstitusi sehingga dia dipecat sebagai perdana menteri.
Keputusan itu menimbulkan spekulasi bahwa pengadilan bertujuan mengurangi protes sekaligus mengakhiri masa jabatan Samak serta menghindari kekhawatiran munculnya kudeta lain. (AP)