Konflik di Timur Tengah
Israel Keras Kepala, AS Jadi Gundah
Sikap keras kepala Israel membuat upaya perdamaian ala Presiden Barack Obama jadi sulit
Rabu, 18 November 2009, 13:05 WIB
Renne R.A Kawilarang, Anda Nurlaila
Lokasi pembangunan pemukiman warga Israel di Yerusalem (AP Photo/Dan Balilty)

VIVAnews - Pemerintah  Amerika Serikat (AS) menegur keras Israel yang tetap meneruskan pembangunan 900 unit permukiman Yahudi di kota Yerusalem bagian timur. Padahal wilayah di Tepi Barat itu diklaim Palestina sebagai ibukota mereka di masa datang. 

Presiden Barack Obama menempatkan pembicaraan damai antara Palestina dan Israel sebagai salahsatu kebijakan politik luar negeri utamanya. Obama meminta Israel tidak melanjutkan perluasan permukiman di wilayah tepi barat.

Namun, Israel bersikukuh bahwa Yerusalem Timur tidak akan patuh pada aturan dari negara-negara Arab dan menunggu keputusan pemerintah Israel. Israel mencaplok dan menguasai wilayah Yerusalem Timur dari Yordania pada Perang Teluk 1967. Daerah ini ditempati warga tiga agama monoteisme yaitu Yahudi, Islam dan Kristen.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menawarkan penghentian pembangunan pemukinan di Tepi Barat, dimana Palestina akan mendirikan negara. Tetapi Benjamin sejak lama menolak desakan mengubah status Yerusalem.

Juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs, mengaku pemerintah AS gundah atas sikap keras kepala Israel. "Kami merasa cemas, (penolakan Israel) itu akan membuat usaha kami (menciptakan perdamaian) semakin sulit," kata Gibbs.

Pemerintahan Netanyahu menyerang balik dan mempertanyakan status pemukiman yang masih belum jelas, yaitu Gilo. " Gilo adalah bagian integral Yerussalem. Bangunan di Gilo tidak menjadi perdebatan selama beberapa dekade dan tidak ada rencana pembangunan baru," kata Netanyahu.

Warga Palestina menyatakan rencana perluasan pemukiman Israel merupakan penolakan upaya perdamaian Obama.

"Pesan ini untuk Presiden AS bahwa Israel tidak perduli dengan posisi AS," kata Nabil Abu Rdeneh, Juru Bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

"AS harus menekan  Israel untuk menghentikan kegiatannya. Ini membuktikan bahwa Israel tidak ingin ada kedamaian dan tidak ingin terlibat dalam proses perdamaian dan menempatkan AS dalam sebuah pertaruhan,"  lanjut Nabil.

Gedung putih bereaksi cepat terhadap perluasan pemukiman Israel di Yerusalem dengan pernyataan Gibbs di sela-sela menemani Presiden Barack Obama dalam kunjungannya di China. Artinya, Pemerintah AS tidak menerima alasan Netanyahu dan menyatakan perluasan pemukiman di Yerusalem timur tidak relevan dalam rencana negosiasi Israel-Palestina.

Perluasan pemukiman Israel juga menuai kritik dari bangsa-bangsa Arab atas pernyataan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton tiga minggu lalu. Clinton menyatakan Netanyahu menghentikan pembangunan pemukiman di  tepi barat dan menyebut hal itu sebagai perkembangan baik.

Bangsa-bangsa Arab merasa tersinggung dengan pernyataan tersebut karena pada kenyataannya, Netanyahu menolak desakan penghentian pembangunan permukiman di Yerussalem Timur. Clinton akan melakukan perjalanan tak terjadwal ke Mesir untuk menjelaskan pernyataannya. (AP)

• VIVAnews
 
komentar
setiawan
18/11/2009
yahudi go to hell
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.


Berita Dunia Terpopuler