|
VIVAnews - Seolah-olah akan pergi berperang, Mayor Nidal Malik Hasan, tersangka pelaku penembakan di Fort Hoods, Texas, Jumat dini hari waktu setempat, sempat membersihkan apartemennya dan memberikan sisa brokoli beku kepada seorang tetangganya.
Hasan juga menyapa tetangga lain untuk mengucapkan terima kasih atas persahabatannya.
Sikap ini biasanya dilakukan prajurit yang akan berangkat perang. Itu juga merupakan bagian dari kesopanan dan rutinitas prajurit yang akan bertugas di medan perang.
Sebaliknya, pihak berwenang mengatakan, Hasan kabur usai melakukan penembakan yang menewaskan 13 orang itu.
Penyidik kemudian memeriksa isi komputer, rumah, dan sampah di sekitarnya untuk mengetahui motivasi tersangka melakukan penembakan. Hasan kini terbaring koma setelah ditembak empat kali.
Para pejabat rumah sakit mengatakan, beberapa korban dalam peristiwa penembakan itu mengalami luka serius dan mungkin tidak bisa tertolong.
Psikiater militer memunculkan dugaan kontradiksi. Hasan sebenarnya adalah seorang pria sopan yang dilingkupi perasaan tidak puas, seorang konselor yang sebenarnya membutuhkan konseling, dan dokter profesional yang melukai para prajurit yang telah dijanjikan perlindungan.
Hasan adalah tentara angkatan darat berusia 39 tahun. Dia juga seorang psikiater. Teman sekelas Hasan mengatakan, tersangka pernah mengatakan bahwa berperang melawan terorisme adalah perang melawan agama tertentu.
Untuk itu, Hasan menjadikan dirinya semacam 'penangkal petir'.
Dalam sebuah pernyataan Jumat, keluarga mengatakan bahwa tindakan Hasan tidak mencerminkan bagaimana dia dibesarkan dalam keluarga.
"Kami menyampaikan duka bagi para korban dan keluarga mereka karena tragedi itu," kata Nader Hasan, sepupu Hasan yang tinggal di bagian utara Virginia.
"Kami sangat malu dengan apa yang telah membuka aib. Kami semua bertanya mengapa hal ini terjadi," kata dia.
Akibat penembakan itu, sekitar 30 orang yang terluka masih dirawat beberapa rumah sakit di pusat Texas.
Roy W Smythe, ketua bedah di Scott dan White Memorial Hospital, mengatakan, beberapa pasien masih dalam kondisi kritis dan terancam kehilangan jiwa. Bahkan, delapan orang lainnya dirawat karena stres dan trauma.
Pada jumpat pers Jumat malam, Wakil Komandan Angkatan Darat di Fort Hood, Kolonel John Rossi, mengatakan, 23 orang masih dirawat di rumah sakit dengan hampir setengahnya dalam perawatan intensif.
Dia memuji para prajurit yang bertindak cepat selama dan setelah penembakan bertubi-tubi itu. (AP)
arinto.wibowo@vivanews.com
• VIVAnews