Penembakan di Fort Hood, Texas
Hasan Sempat Ucapkan Perpisahan Ala Prajurit
Hasan juga menyapa tetangganya untuk mengucapkan terima kasih atas persahabatannya.
Sabtu, 7 November 2009, 14:19 WIB
Arinto Tri Wibowo, Nerisa
Penembakan Brutal di Barak Militer AS, Fort Hood (AP Photo/Jack Plunkett)

VIVAnews - Seolah-olah akan pergi berperang, Mayor Nidal Malik Hasan, tersangka pelaku penembakan di Fort Hoods, Texas, Jumat dini hari waktu setempat, sempat membersihkan apartemennya dan memberikan sisa brokoli beku kepada seorang tetangganya.

Hasan juga menyapa tetangga lain untuk mengucapkan terima kasih atas persahabatannya.

Sikap ini biasanya dilakukan prajurit yang akan berangkat perang. Itu juga merupakan bagian dari kesopanan dan rutinitas prajurit yang akan bertugas di medan perang.

Sebaliknya, pihak berwenang mengatakan, Hasan kabur usai melakukan penembakan yang menewaskan 13 orang itu.

Penyidik kemudian memeriksa isi komputer, rumah, dan sampah di sekitarnya untuk mengetahui motivasi tersangka melakukan penembakan. Hasan kini terbaring koma setelah ditembak empat kali.

Para pejabat rumah sakit mengatakan, beberapa korban dalam peristiwa penembakan itu mengalami luka serius dan mungkin tidak bisa tertolong.

Psikiater militer memunculkan dugaan kontradiksi. Hasan sebenarnya adalah seorang pria sopan yang dilingkupi perasaan tidak puas, seorang konselor yang sebenarnya membutuhkan konseling, dan dokter profesional yang melukai para prajurit yang telah dijanjikan perlindungan.

Hasan adalah tentara angkatan darat berusia 39 tahun. Dia juga seorang psikiater. Teman sekelas Hasan mengatakan, tersangka pernah mengatakan bahwa berperang melawan terorisme adalah perang melawan agama tertentu.

Untuk itu, Hasan menjadikan dirinya semacam 'penangkal petir'.

Dalam sebuah pernyataan Jumat, keluarga mengatakan bahwa tindakan Hasan tidak mencerminkan bagaimana dia dibesarkan dalam keluarga.

"Kami menyampaikan duka bagi para korban dan keluarga mereka karena tragedi itu," kata Nader Hasan, sepupu Hasan yang tinggal di bagian utara Virginia.

"Kami sangat malu dengan apa yang telah membuka aib. Kami semua bertanya mengapa hal ini terjadi," kata dia.

Akibat penembakan itu, sekitar 30 orang yang terluka masih dirawat beberapa rumah sakit di pusat Texas.

Roy W Smythe, ketua bedah di Scott dan White Memorial Hospital, mengatakan, beberapa pasien masih dalam kondisi kritis dan terancam kehilangan jiwa. Bahkan, delapan orang lainnya dirawat karena stres dan trauma.

Pada jumpat pers Jumat malam, Wakil Komandan Angkatan Darat di Fort Hood, Kolonel John Rossi, mengatakan, 23 orang masih dirawat di rumah sakit dengan hampir setengahnya dalam perawatan intensif.

Dia memuji para prajurit yang bertindak cepat selama dan setelah penembakan bertubi-tubi itu. (AP)

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews
 
komentar
cosmar
08/11/2009
dewi@sekeras apapun tekanan di sana bukan berarti harus membunuh rekan seprofesi . Seorang prajurit harus siap menerima resiko yaitu perang apapun agamanya, kalau ngak siap ya resign selesai.
cosmar
08/11/2009
@dewi: seberat apapun kondisi disana bukan berarti alasan utk membunuh rekan sejawat kan, seorang prajurit sejati harus siap berperang apapun agamanya. kalau ngak siap ya resign selesai. sekarang Nidal telah berbuat dan semoga masalahnya ngak melebar. Rasa bela sungkawa saya buat korban dan keluarga.
Dewi
08/11/2009
Saya kenal Dr. Nidal. dia teman dekat suami saya waktu di Maryland. Dia seorang yang ramah, bailk hati & muslim yang taat dan bahkan sempat minta dicarikan jodoh wanita muslim yang sholat 5 waktu. Jika seoran Doktor ahli kejiwaan yang religius yang anti perang saja sampai angkat senjata, bisa anda bayangkan betapa kerasnya tekanan di negara super power tersebut! Syukurlah sy jd orang Indonesia yg tidak hobby perang...
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.